top of page
Search

BISAKAH KITA MENDAPATKAN PEKERJAAN YANG ‘HAPPY’?

Oleh : Hendrikus Anung Anindito, M. Psi., Psikolog

 

Beberapa hari yang lalu sebelum tulisan ini dibuat, saya merenungi nasib saya setelah lulus pendidikan program magister profesi psikologi di salah satu perguruan tinggi di Surabaya dengan motto terkenalnya ‘Excellent with Morality’. ‘Apa yang harus saya lakukan selanjutnya?’, dalam pikiran saya. Saya mulai merefleksikan kembali bagaimana proses saya bisa di titik saat ini. Sampai saya menyadari bahwa sebenarnya yang saya lakukan adalah menginvestasikan diri ke dalam sebuah sistem masyarakat/ komunitas intelektual.


Happy Dalam bekerja
Happy Dalam bekerja

Hal ini jelas terlihat ketika saya mulai mengharapkan return dari apa yang telah saya lakukan selama ini. Sehingga, persoalan tentang ‘apa yang harus saya lakukan selanjutnya?’ adalah persoalan tentang ‘apa sih yang seharusnya saya selesaikan?’. Mengapa ? Karena dengan sudut pandang ‘apa yang harus saya selesaikan?’ tersebut, fokusnya bukan lagi pada diri sendiri, melainkan saya mulai melihat permasalahan apa di sekitar saya yang bisa saya bantu selesaikan dengan keahlian dan kemampuan yang saya miliki. Dengan demikian jelas, bahwa saat ini fokus saya adalah menyelesaikan persoalan yang ada di sekitar saya sesuai kapasitas, keahlian, dan kemampuan yang saya miliki.


Beruntungnya, pengumuman pesan melalui pesan WA oleh APIO pusat memberikan harapan baru bagi saya. Mengapa ? Karena dalam pengumuman tersebut, dijelaskan bahwa APIO sedang berupaya untuk menghidupkan kembali websitenya yang sudah lama tidak ditempati. Hehe... mungkin rekan-rekan APIO sedang sibuk mengurus banyak proyek, sampai lupa ada fitur penting yang terlewat bagi anggota rumahnya. Tapi apapun itu, saya senang sekali karena ada hal yang bisa saya kontribusikan dan ini membuat saya tergerak untuk berkontribusi bagi komunitas ini. Alasan tersebutlah yang membuat saya ingin menuliskan opini agar bisa membantu APIO menghidupkan kembali websitenya.


Worthy jobs are made not found”. Sebagai Homo Faber / man the maker maka jelas manusia diberi kodrat dan fitrah sebagai makhluk yang dapat menciptakan sesuatu. Hal ini menggambarkan bahwa manusia adalah pekerja sebagai salah satu hakikat keberadaannya. Bekerja adalah esensial bagi kita, oleh karenanya jika tidak bekerja akan terasa ketidaknyamanan yang hakiki / anxiety. Sehingga, kemampuan manusia diukur dari sesuatu yang dia hasilkan. Pertanyaan  mengenai ‘apa sih yang saya bisa?’, ‘apa yang saya mampu?’, ‘apa yang saya bisa kerjakan?, ‘apa yang bisa saya hasilkan?’ adalah pertanyaan-pertanyaan wajar dan manusiawi. Kita mengenal diri kita ketika kita mengetahui apa yang kita kerjakan. Kita menjadi tidak ‘bernilai’ ketika kita tidak mampu mengerjakan sesuatu/ tidak mampu menghasilkan sesuatu seperti yang diinginkan. Harga diri dan identitas kita menurun karena tidak mampu melakukan suatu pekerjaan.

Sebentar... apakah maksudnya kita harus terus menerus bekerja ? Dalam bahasa Inggris ada istilah work dan labor. Apa bedanya ? Bellofiore (1989) menjelaskan tentang konsep labor tersebut, ia mengutip Marx yang menurutnya labor lebih bermakna ‘kerja’ itu sendiri yang berkaitan dengan kebutuhan biologis manusia, makan, minum, buang air, dsb. Manusia harus melakukan labor untuk menyesuaikan diri dengan kondisi eksternalnya. Di sisi lain, work lebih bermakna ‘karya’ atau tentang suatu aktivitas yang menghasilkan value, menghasilkan kreasi, dan membawa pengaruh baik pada lingkungan sekitar. Di sinilah letak perbedaannya, ketika labor memenuhi 2 kebutuhan dalam piramida Maslow (1943) yaitu physiological needs dan safety needs, maka work memenuhi 3 kebutuhan lainnya yaitu social needs, esteem needs, dan self-actualization needs. Walaupun kedua hal tersebut berbeda, namun ada kalanya work dan labor itu bertemu juga. Sebagai contoh, ketika kita menciptakan masterpiece yang ternyata menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita (Rojas et al, 2023).


Lalu bagaimana kita bisa menciptakan ‘pekerjaan’ yang ‘happy’ untuk dijalani? Sebelumnya mari kita batasi pengertian ‘happy’ di sini. Menurut saya ‘happy’ dalam pengertian ini adalah sesuatu yang berharga, bermakna, dan berdampak. Sehingga, menciptakan pekerjaan yang ‘happy’ adalah menciptakan pekerjaan yang berharga, bermakna, dan berdampak untuk dijalani. Oleh karenanya, menurut saya ungkapan seperti ‘ikutilah kata hatimu’, ‘temukan apa yang kamu cintai’, itu sedikit menyesatkan. Memang ungkapan tersebut populer, orang-orang berusaha untuk menemukan apa yang mereka sukai dan cintai dalam pekerjaan mereka. Tapi bukankah, orang-orang itu mengambil suatu pekerjaan yang cukup baik bagi mereka, dan menjadikannya itu sebagai sesuatu yang hebat ? Jika demikian faktanya, maka mencintai apapun pekerjaan yang kita lakukan adalah kunci dari membuat pekerjaan tersebut ‘happy’. Sebagaimana Steve Jobs pernah berkata, ‘the only way to do great work is to love what you do’, yang senada dengan opini saya di atas.


Oke.. lalu bagaimana saya bisa mencintai pekerjaan saya ? Atasan saya toxic, gajinya kurang, lingkungan kerjanya tidak saling mendukung, bagaimana saya bisa mencintai pekerjaan saya ? Baik, mari kita desain pekerjaan tersebut :

  1. Pertama, mari kita merancang masa depan seperti apa yang diri kita dan mungkin banyak orang inginkan. Mari kita lakukan hal-hal yang dapat mengarahkan diri kita ke tujuan itu.

  2. Kedua, mari kita kenali kelebihan apa yang ada pada diri kita. Mengenali kelebihan menjadikan kita mudah mengetahui apa yang bisa kita lakukan dalam pekerjaan.

  3. Ketiga, gunakan kelebihan kita dalam bekerja. Semakin sering kelebihan kita digunakan, bukankah itu semakin baik ?

  4. Keempat, optimis. Rasakan bahwa apapun pekerjaan kita, apapun yang kita lakukan baik itu labor ataupun work akan membawa kesuksesan, membawa manfaat, dan hasil yang baik. Besok akan lebih baik.

  5. Kelima, jika mendapat kritik ataupun pujian, anggaplah bukan diri kita yang dipuji, melainkan perilaku atau karya kita. Ingat, orang mengkritik karya, bukan diri kita. Orang yang terlalu egois menyamakan karya dengan dirinya sendiri. Begitupun ketika mendapat pujian, itu adalah hasil dari perjuangan dan upaya yang efektif. 

  6. Keenam, jangan pernah menunggu. Waktu tidak akan pernah tepat.

 

Di masa-masa sulit seperti ini saya kira tepat untuk terus bertahan dalam pekerjaan yang kita sedang lakukan. Mari kita semua memberikan cinta pada apapun pekerjaan yang kita lakukan. 

Referensi :

Bellofiore, R., & Davies, R. (1998). The Concept of Labor in Marx. International Journal of Political Economy, 28(3), 4–34. http://www.jstor.org/stable/40470723 

Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396. https://doi.org/10.1037/h0054346

Rojas, M., Méndez, A., & Watkins-Fassler, K. (2023). The hierarchy of needs: Empirical examination of Maslow’s theory and lessons for development. World Development, 165, 106185. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2023.106185 

Disclaimer: Artikel ini berisi opini personal penulis dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi.

           

 
 
 
Modern Glass Office Building

Address

Perkantoran Apartemen Cervino Villages Unit K Lantai 1
Jl. KH Abdullah Syafei No.27 3, RT.3/RW.1, Tebet Bar., Kec. Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12810

Contact

+62 813 8500 0799

©2025 by Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi

bottom of page